Kumpulan para pemuda yang memiliki misi dan tujuan yang sama untuk kesejahteraan bersama. Kedepannya diharapkan menjadi sumber inspirasi dan wadah pembinaan bagi kelompok ternak lain.
Alamat Gg. Beringin 19b Desa/Kelurahan Bumirejo, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah Telp. : 0287- 385887 / 08886802827
Email kote_ka@yahoo.co.id

Nematodiasis (Cacingan)

Nematodiasis adalah penyakit parasit internal atau penyakit cacingan saluran pencernaan pada kambing dan domba yang disebabkan oleh cacing gilig. Frekuensi kejadian pada domba/kambing dapat mencapai 80%, terutama pada daerah dengan curah hujan tinggi. Pada musim hujan frekuensi dan intensitas penyakit ini meningkat.

Pada kambing dan domba, haemonchosis disebabkan oleh spesies Haemonchus contortus. Penyebaran penyakit ini biasanya secara langsung melalui padang penggembalaan, yaitu melalui rumput yang terkontaminasi larva infektif (larva stadium III). Larva ini mempunyai selubung (sheat) dan tahan terhadap kekeringan maupun pembekuan. Jika larva ini tertelan oleh kambing maka larva tersebut akan masuk dalam saluran pencernaan kemudian melepaskan selubungnya dan bermigrasi ke abomasum. Di dalam abomasum, larva stadium III akan mengalami perkembangan lebih lanjut menjadi stadium IV dalam waktu 2 hari pasca infestasi lalu menembus abomasum serta membuat lubang. Stadium ini akan tinggal di lamina propia selaput lendir abomasum dan pada hari ke-4 akan muncul dipermukaan abomasums untuk memulai fase parasitiknya, yaitu menghisap darah induk semang.

Parasit ini mampu mengeluarkan suatu zat anti pembekuan darah ke dalam luka yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, mukosa menjadi sangat teriritasi dan cacing tersebut akan menghisap darah dalam jumlah yang cukup banyak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa domba yang terinfestasi berat oleh Haemonchus contortus akan kehilangan darah 0,6 liter tiap minggunya. Pada kambing dan domba akan mengakibatkan penurunan abosorbsi sari-sari makanan, protein, kalsium dan fosfor.

Kambing dan domba muda sangat peka terhadap cacing ini. Gejala klinis yang dapat terlihat adalah penurunan bobot badan yang sangat drastis. Menurut penelitian, Haemonchus sendiri tidak menyebabkan diare, akan tetapi jika bersamaan dengan mengonsumsi hijaun muda ataupun infestasi campuran dengan Trichostrongylus maka diare dapat timbul. Pada kambing yang terinfestasi cacing ini, biasanya menunjukkan reaksi pertahanan tubuh, yaitu Self Cure Reaction atau Self Cure Protection. Keadaan ini dibuktikan dengan adanya penurunan populasi cacing di abomasum pada hari ke-10 sampai ke-14 yang diduga karena adanya kekebalan induk semang. Jumlah cacing yang dapat menimbulkan kematian tergantung berbagai macam faktor, seperti umur induk semang, ukuran dan bobot badan, lama infestasi, status nutrisi dan status hematology.

BALITVET merekomendasikan beberapa cara pencegahan penyakit cacing, yaitu (1) jika ternak digembalakan maka dianjurkan untuk diberi obat cacing pada awal musim hujan, puncak musim hujan dan awal musim kemarau terutama ternak muda dan ternak bunting. (2) Apabila tidak digembalakan maka obat cacing diberikan pada ternak yang kondisinya kurang baik, bila perlu diberi antibiotika, vitamin B komplek dan disediakaan air secara ad libitum.



Tidak ada komentar:

Pojokan Kandang

Pojokan Kandang
Masih dalam pengembangan, harap MAKLUM !!!